Minggu, 06 Juli 2014

Laporan Praktikum Refraktometer & Hardnes




A.       Judul Percobaan
Refraktometer & Hardnes
B.    Tujuan Percobaan
ü Untuk mengukur indeks bias suatu senyawa
ü Mahasiswa mampu melakukan pengujian kekerasan hardness  terhadap suatu material dengan metoda pengujian kekerasan Brinell

C.    Landasan Teori
a.    Refraktometer
 Secara garis besar pekerjaan analisis kimia dapat digolongkan dalam dua kategori besar yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Melalui analisis kualitatif dan kuantutatif kita dapat mendeteksi dan mengidentifikasi jenis dan jumlah dari komponen penyususn bahan yang dianalisis atau lebih dikenal sebagai analit. Perkembangan instrument sebagai hasil perkembangan teknologi, memungkinkan kita melakukan analisi dalam berbagai bentuk komposisi analit.

Tujuan utama analisis kualitatif adalah mengidentifikasi komponen dalam zat kimia. Analisis kualitatif menghasilkan data kualitatif, seperti terbentuknya endapan, warna gas, maupun data non numeric lainnya. Refraktometer yaitu alat yang bekerja berdasarkan pembiasan sinar, dipakai untuk menentukan indeks bias cairan (Godman,1991:452).

Indeks bias adalah ukuran kemampuan suatu medium untuk membiaskan cahaya. Indeks bias suatu medium sama dengan kecepatan rambat cahaya di ruang hampa dibagi dengan kecepatan rambat cahaya di dalam medium tersebut. Juga diukur dengan indeks bias = (sinus sudut dating).






b.    Hardnes
       Kekerasan suatu bahan adalah kemampuan sebuah material untuk menerima bebantanpa mengalami deformasi plastis yaitu tahan terhadap identasi, tahan terhadap penggoresan, tahan terhadap aus, tahan terhadap pengikisan (abrasi). Kekerasan suatu bahan merupakan sifat mekanik yang paling penting, karena kekerasan dapat digunakanuntuk mengetahui sifat-sifat mekanik yang lain, yaitu strenght (kekuatan.

D.    Alat dan Bahan
1.    Alat
ü Refraktometer
ü Hardnes
ü Pisau

2.    Bahan
ü Tomat Merah ( Suhu Ruang dan Suhu Rendah )
ü Tomat peralihan ( Suhu Ruang dan Suhu Renda )
ü Tissue

E.    Prosedur Kerja
a.    Refraktometer
1.         Tomat dibelah dua (2) untuk mengambil sapel air dengan cara diperas.
2.         Meneteskan minuman yang akan diperiksa indeks biasnya pada permukaan prisma refraktometer.
3.         Menutup dan membiarkan berkas cahaya memasuki, melewati larutan perasan air tomat  dan pengatur prisma agar cahaya pada layar dalam alat tersebut menjadi dua warna dengan batas yang jelas.
4.         Menggeser tanda batas tersebut dengan memutar knop pengatur, sehingga memotong titik perpotongan dua garis diagonal yang saling berpotonga yang terlihat pada layar
5.         Mengamati dan membaca skala indeks bias yang ditunjukkan oleh jarum layar skala.
6.          Layar hasil warna yang telah diatur sedemikian sehingga memberikan dua warna yang mempunyai warna yang jelas dan tegas.
7.         Mengontrol ketelitian temperatur

b.    Hardnes
1.         Tomat yang masih utuh di uji kekerasan dengan menggunakan hardnes dengan cara menekan pada bagian luar tomat.
2.         Tomat yang telah dibelah dua (2) diuji kekerasan menggunakan hardnes dengan menekan pada bagian tengah tomat.
3.      Mengamati dan membaca skala yang ditunjukkan oleh jarum layar skala.


F.    Hasil Pengamatan

No
PENGGUNAAN ALAT
SUHU
TINGKAT KEMATANGAN
TOMAT PERALIHAN
TOMAT MERAH
1
Hardnes
Suhu Ruang
UTUH
3,14 Kg
SEBELAH
2,15 Kg
UTUH
1,35 Kg
SEBELAH
0,5 Kg
Suhu Rendah
3,15 Kg
1,00 Kg
2,18 Kg
1,17 Kg
2
Refraktometer
Suhu Ruang
UTUH
2,9 Briks
33 CELCIUS
3,91 Briks
UTUH
3,9 Briks
33 CELCIUS
4,91 Briks
Suhu Rendah
3,5 Briks
4,51 Briks
3,0 Briks
4,01 Briks


G.     Analisi Data
a.    Refraktometer
Nilai ketetapan refraktometer pada suhu 33 oC = 1,01
Indeks bias dari masing-masing larutan :

1.      Tomat Peralihan
ü Suhu Ruang          = 2,9 Briks + 1,01       = 3,91 Briks
ü Suhu Rendah        = 3,5 Briks + 1,01       = 4,51 Briks
2.      Tomat Merah           
ü Suhu Ruang          = 3,9 Briks + 1,01       = 4,91 Briks
ü Suhu Rendah        = 3,0 Briks + 1,01       = 4,01 Briks




b.    Hardnes
skala yang ditunjukkan oleh jarum layar skala :
1.      Tomat Peralihan      
ü Suhu Ruang
§   Utuh               = 3,14 Kg
§   Sebelah          = 2,15 Kg
ü Suhu Rendah       
§   Utuh               = 3,15 Kg
§   Sebelah          = 1,00 Kg
2.      Tomat Merah
ü Suhu Ruang         
§   Utuh               = 1,35 Kg
§   Sebelah          = 0,5 Kg
ü Suhu Rendah
§   Utuh               = 2,18 Kg
§   Sebelah          = 1,17 Kg
Keterangan
1.      Tomat Peralihan
2.      Tomat Merah

H.   Pembahasan
a.                                             Refraktometer
       Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/konsentrasi bahan terlarut dengan memanfaatkan reaksi cahaya. Tujuan percobaan yaitu mengetahui cara menggunakan alat dan menghitung indeks bias. Dari percobaan data yang diperoleh untuk tomat peralihan  skala yang ditunjukkan yaitu = 3,91 Briks untuk tomat peralihan pada suhu ruang, = 4,51 Briks untuk tomat peralihan pada suhu rendah, dan untuk tomat merah skala yang ditunjukkan yaitu =4,91 Briks untuk tomat merah pada suhu ruang, = 4,01 Briks untuk tomat merah pada suhu rendah. Pada tabel juga dituliskan kadar gula senyawa sebanding atau berbanding lurus dengan nilai indeks biasnya.


b.    Hardnes
       Hardnes adalah alat yang digunakan untuk mengukur kekeraan suatu material yang ingin di uji titik kekerasannya, dengan mengunakan teknik penekadan terhadap suatu material percobaan. Tujuan percobaan untuk mengetahui cara penggunaan alat dan mengetahui titik kekerasan suatu material, dari percobaan data yang diperoleh untuk tomat peralihan skala yang ditujukkan yaitu = 3,14 Kg masih utuh pada suhu ruang, = 2,15 Kg sebelah pada suhu ruang, = 3,15 Kg masih utuh pada suhu rendah, = 1,00 Kg sebelah pada suhu rendah, dan pada tomat merah diperoleh skala yaitu = 1,35 Kg masih utuh pada suhu ruang, = 0,5 Kg sebelah pada suhu ruang, = 2,18 Kg masih utuh pada suhu rendah, = 1,17 Kg sebelah pada suhu rendah. Pada

I.     Kesimpulan
a.         Refraktometer
ü  Besar indeks bias pada tomat peralihan dan tomat merah  yaitu tomat peralihan pada suhu ruang (3,91 Briks), pada suhu rendah  (4,51 Briks), dan pada tomat merah pada suhu ruang (4,91 Briks), pada suhu rendah (3,01 Briks).

ü  Kadar gula dalam kemasan sebanding dengan besar indeks bias senyawa tersebut.

b.    Hardnes
ü  titik kekerasan pada masing- masing material memiliki tingkat kekeran tersendiri (berfariasi) yaitu pada tomat peralihan masih utuh (3,14) pada suhu ruang, (3,15) pada suhu rendah, pada tomat peralihan sebelah 2,15) pada suhu ruang, (1,00) pada suhu rendah, dan pada tomat merah masih utuh (1,35) pada suhu ruang, (2,18) pada suhu rendah, pada tomat merah sebelah (0,5) pada suhu ruang, dan (1,17) pada suhu rendah.



DAFTAR PUSTAKA

·           Suherman, Ir Wahid, 1987, Pengetahuan Bahan, Jurusan Teknik Mesin, Surabaya.

·           Bandriyana, B dan Tutun Nugraha.2003.Teknologi Nitridasi Plasma Untuk 
Bahan Pengerasan Permukaan Bahan Komponen Industri. Yogyakarta: PTBN-BATAN.

·           Febriantoko, Bambang Waluyo.2008. Studi Variasi Suhu terhadap Kuat
Mekanik Sambungan antara Baja dengan Tembaga pada Proses Furnace Brazing. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

·           Nugroho, Agung dwi. 2006. Efek Holding Time Temperatur Sinter dan Tekan 
 Kompaksi Terhadap Kekerasan dan Ketebalan Permukaan Baja ST-40   Berbentuk Slinder dengan Proses Surface Hardening Mamfaatkan Serbuk
Alumunium. Semarang: Universitas Diponegoro

·           Pratama, Damar Dwiyadi.2011. Difussion In Solid. Cilegon: Universitas Sultan 
Ageng Tirtayasa.

·           Sukma, Jonika Asmarani.2008. Laporan Praktikum Sturktur dan Sifat 
 Material. Semarang: Universitas Diponegoro.

·           Suryo, Sumar Hadi.2010. Laju Korosi dan Kekerasan Pipa Baja API 5L X65 
    Setelah Normalizing. Semarang: Universitas Diponegoro.



Rabu, 07 Mei 2014

makalah proses pembuatan tahu


BAB 1
A.      Pendahuluan
1.1   Latar Belakang
Tahu merupakan salah satu bahan makanan pokok di negeri ini, yang termasuk dalam makanan 4 (empat) sehat 5 (lima) sempurna. Tahu juga merupakan makanan yang mengandung sangat banyak gizi dan cukup mudah untuk diproduksi. Untuk memproduksi tahu bahan-bahan yang dibutuhkan hanya berupa kacang kedelai. Tidak heran jika saat ini kita dapat menemukan banyak sekali pabrik pembuatan tahu, baik dalam bentuk usaha kecil dan usaha menengah yang masih menggunakan cara konvensional ataupun usaha-usaha yang sudah cukup sukses dengan cara pembuatan yang lebih modern.

Berdasarkan hal-hal diatas maka kami tertarik untuk menjadikan Pabrik Pembuatan Tahu sebagai bahan makalah proses produksi kami. Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang populer. Selain rasanya enak, harganya murah dan nilai gizinya pun tinggi. Bahan makanan ini diolah dari kacang kedelai. Meskipun berharga murah dan bentuknya sederhana, ternyata tahu mempunyai mutu yang istimewa dilihat dari segi gizi. Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa tahu kaya protein bermutu tinggi, tinggi sifat komplementasi proteinnya, ideal untuk makanan diet, rendah kandungan lemak jenuh dan bebas kholesterol, kaya mineral dan vitamin (Koswara, 2006).

1.2   Rumusan Masalah
         1.     Apa saja bahan dan alat yang diperlukan untuk membuat tahu
         2.     Apa saja proses pembuatan tahu

1.3   Tujuan
         1.     Untuk mengetahui bahan dan alat yang diperlukan untuk membuat tahu
         2.     Untuk mengetahui proses pembuatan tahu




BAB II
A.      Pembahasan
Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tahu. Kedelai yang digunakan adalah kedelai jenis Bola I, Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering. Hampir semua tahapan dalam pembuatan tahu membutuhkan air dari proses perendaman, pencucian, penggilingan, pemasakan, dan perendaman tahu yang sudah jadi sehingga dibutuhkan air dalam jumlah banyak. Air yang digunakan di berasal dari air tanah atau air artesis.
Asam Cuka berfungsi untuk mengedapkan atau memisahkan air dengan konsentrat tahu. Asam cuka mengandung cuka dan garam sehingga bersifat asam. Asam cuka yang digunakan diperoleh dari pabrik tahu lain dan dapat digunakan secara berulang-ulang.

Tabel 1. Komposisi Kedelai per 100 gram Bahan

KOMPONEN
KADAR (%)
PROTEIN
35-45
KARBOHIDRAT
12-30
LEMAK
18-32
AIR
7


B.      Bahan dan Alat yang diperlukan untuk Membuat Tahu
2.1    Bahan
2.1.1 Kedelai
Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tahu. Kedelai yang digunakan adalah kedelai jenis Bola I.





2.1.2 Air
Hampir semua tahapan dalam pembuatan tahu membutuhkan air dari proses perendaman, pencucian, penggilingan, pemasakan, dan perendaman tahu yang sudah jadi sehingga dibutuhkan air dalam jumlah banyak. Air yang digunakan di berasal dari air tanah atau air artesis.
         
2.1.3 Asam Cuka
Asam Cuka berfungsi untuk mengedapkan atau memisahkan air dengan konsentrat tahu. Asam cuka mengandung cuka dan garam sehingga bersifat asam. Asam cuka yang digunakan diperoleh dari pabrik tahu lain dan dapat digunakan secara berulang-ulang.

2.2    Alat yang diperlukan
Ø  Tungku
Ø  Bak
Ø  kain penyaring
Ø  cetakan tahu
Ø  timba

C.      Proses pembuatan tahu
2.3    Perendaman
Pada tahapan perendaman ini, kedelai direndam dalam sebuah timba perendam. Langkah pertama adalah memasukan kedelai ke dalam timba yang birisikan air secukupnya. kurang lebih 3 jam. Jumlah air yang dibutuhkan tergantung dari jumlah kedelai, intinya kedelai harus terendam semua. Tujuan dari tahapan perendaman ini adalah untuk mempermudah proses penggilingan dan penghilangan kulit ari pada kedelai sehingga dihasilkan bubur kedelai yang kental. Selain itu, perendaman juga dapat membantu mengurangi jumlah zat antigizi (Antitripsin) yang ada pada kedelai. Zat antigizi yang ada dalam kedelai ini dapat mengurangi daya cerna protein pada produk tahu sehingga perlu diturunkan
kadarnya.

gambar  kegiatan perendaman kedelai






2.4       Pencucian kedelai
Proses pencucian merupakan proses lanjutan setelah perendaman. Sebelum dilakukan proses pencucian, kedelai yang di dalam timba dikeluarkan dari timba pencucian dan dimasukan ke dalam ember-ember plastik untuk kemudian dicuci dengan air mengalir. Tujuan dari tahapan pencucian ini adalah membersihkan biji-biji kedelai dari kotoran-kotoran supaya tidak mengganggu proses penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak tercampur ke dalam adonan tahu.

gambar kegiatan pencucian pada kedelai


 







2.5       Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling biji kedelai dengan tenaga penggerak dari motor lisrik. Tujuan penggilingan yaitu untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian dimasak sampai mendidih. Saat proses penggilingan sebaiknya dialiri air untuk didapatkan kekentalan bubur yang diinginkan.


Gambar kegiatan penggilingan pada kedelai


 







2.6       Pemasakan
Proses pemasakan ini dilakukan di sebuah bak berbentuk bundar yang dibuat dari semen yang di bagian bawahnya terdapat pemanas uap. Uap panas berasal dari ketel uap yang ada di bagian belakang lokasi proses pembuatan tahu yang dialirkan melalui lubang yang mengarah ke cerobong asap di atas atap. Bahan bakar yang digunakan sebagai sumber panas adalah kayu bakar yang diperoleh dari sisa-sisa pembangunan rumah,umput gergaji. Tujuan perebusan adalah untuk mendenaturasi protein dari kedelai sehingga protein mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir perebusan ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung panas dan mengentalnya larutan/bubur kedelai. Kapasitas bak perebusan adalah sekitar 10 kg kedelai.

Gambar kegiatan pemasakan pada kedelai



 









2.7       Penyaringan
Setelah bubur kedelai direbus dan mengental, dilakukan proses penyaringan dengan menggunakan kain saring, tujuan dari proses penyaringan ini adalah memisahkan antara sari kedelai dengan ampas kedelai yang tidak diinginkan. Pada proses penyaringan ini bubur kedelai yang telah mendidih dan sedikit mengental,selanjutnya di pindahkan ke dalam bak pemanas dengan menggunakan timba kecil. Setelah seluruh bubur yang ada di bak pemanas habis lalu dimulai proses penyaringan. Saat penyaringan secara terus-menerus dilakukan penambahan air dengan cara menuangkan pada bagian tepi saringan agar tidak ada padatan yang tersisa di saringan.

Penuangan air diakhiri ketika sari yang dihasilkan sudah mencukupi. Kemudian saringan yang berisi ampas diperas sampai benar-benar kering. Ampas hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk makanan ternak ataupun dijual untuk bahan dasar pembuatan tempe gembus/bongkrek.

Gambar kegiatan panyaringan pada kedelai



 










2.8.    Pengendapan dan Penambahan Asam Cuka
Dari proses penyaringan diperoleh filtrat putih seperti susu yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka dalam jumlah tertentu. Fungsi penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi pemisahan antara whey dengan gumpalan tahu. Setelah ditambahkan asam cuka terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas (whey) dan lapisan bawah (filtrat/endapan tahu). Endapan tersebut terjadi karena adanya koagulasi protein yang disebabkan adanya reaksi antara protein dan asam yang ditambahkan. Endapan tersebut yang merupakan bahan utama yang akan dicetak menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa limbah cair merupakan bahan dasar yang akan diolah menjadi Nata De Soya.



Gambar kegiatan pengendapan dan penambahan asam cuka


 





                                                                                                                                               

2.9    Pencetakan dan Pengepresan
Proses pencetakan dan pengepresan merupakan tahap akhir pembuatan tahu. Cetakan yang digunakan adalah terbuat dari kayu berukuran 70x70cm yang diberi lubang berukuran kecil di sekelilingnya. Lubang tersebut bertujuan untuk memudahkan air keluar saat proses pengepresan. Sebelum proses pencetakan yang harus dilakukan adalah memasang kain saring tipis di permukaan cetakan. Setelah itu, endapan yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya dipindahkan dengan menggunakan alat semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya kain saring ditutup rapat dan kemudian diletakkan kayu yang berukuran hampir sama dengan cetakan di bagian atasnya. Setelah itu, bagian atas cetakan diberi beban untuk membantu mempercepat proses pengepresan tahu. Waktu untuk proses pengepresan ini tidak ditentukan secara tepat, pemilik mitra hanya memperkirakan dan membuka kain saring pada waktu tertentu. Pemilik mempunyai parameter bahwa tahu siap dikeluarkan dari cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras dan tidak hancur bila digoyang.

Gambar kegiatan pencetakan dan pengepresan



 











2.10  Pemotongan tahu
Setelah proses pencetakan selesai, tahu yang sudah jadi dikeluarkan dari cetakan dengan cara membalik cetakan dan kemudian membuka kain saring yang melapisi tahu. Setelah itu tahu dipindahkan ke dalam bak yang berisi air agar tahu tidak hancur. Sebelum siap dipasarkan tahu terlebih dahulu dipotong sesuai ukuran. Pemotongan dilakukan di dalam air dan dilakukan secara cepat agar tahu tidak hancur.

Gambar kegiatan pemotaongan pada tahu



 























BAB III

A.      Penutup
3.1    kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambi kesimpulan, bahwa pembuatan tahu di desa katang kecamatan tepus kabupaten kediri. Oleh pemilik bapak masih menggunakan peralatan yang sederhana atau bisa dikatan bapak warsito masih menggunakan mekanisasi pembuatan tahu secara tradisional. Selain itu dapat Mendukung konsep yang sudah disebutkan diatas bahwa pembuatan tahu tidak membutuhkan modal yang besar. Dan bahan dasarnya pun sangat sederhana serta mudah didapat. Bahwa pembuatan tahu memberikan omzet yang cukup besar. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai titik impas. Bahkan Untuk proses pembuatan tahu yang konvensional seperti ini dibutuhkan cukup banyak tenaga kerja, sehingga membuka lapangan pekerjaan.


















DAFTAR PUSTAKA
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/artikel/pangan/PIWP/TAHU.PDF
http://ika-prosespembuatantahu.blogspot.com/2010/11/proses-pembuatan-tahu.html